A review by heavenlyrealms
Tokyo & Perayaan Kesedihan by Ruth Priscilia Angelina

5.0

Seperti judulnya, Tokyo & Perayaan Kesedihan. Buku yang cocok dibaca saat jiwa ini sedang bersedih. Merasa putus asa dan terbesit untuk “menyerah” terhadap hidup. Buku ini… menyedihkan. Seperti judulnya. Gelap. Menampar. Membuat kembali berpikir atas diri sendiri, atas perasaan yang dihadapi. Lelah, sedih, kosong, merupakan perasaan yang layak untuk divalidasi. Hidup tidak serta merta selalu bahagia pun tidak akan selalu sedih.

Jika kita bertemu seseorang yang ingin menyerah, rangkul-lah. Bantulah karena kita nggak tau, hal kecil pun dapat membuatnya mereka tetap hidup. Contohnya, sekedar membalas pesan mereka. Buat mereka sadar bahwa di dunia ini masih ada orang yang mencari dan membutuhkan mereka. Bahwa mereka tidak sendiri. Tidak ada kata terlambat untuk menolong, tidak kata terlalu cepat untuk memulai.

Kalimat yang akan selalu aku ingat (pengingat kita semua): “Meskipun dapat disudahi, hidup ini juga berhak dijalani.”

Penulis sangat indah menuliskan atau kalau kata Joshua, meromantisasi kesedihannya Shira. Pembaca diberikan dua sudut pandang yang menyedihkan. Kedua tokoh memiliki masalahnya dan cara berpikirnya sendiri. Gaya bahasa yang ditampilkan untuk Shira sedikit lebih informal dibandikan Joshua dan itulah ciri khas dari cerita ini.